Monday, September 9, 2019

Media dan Bawaslu


Pertama ingin saya sampaikan bahwa salah satu fungsi media, seperti yang tercantum dalam UU Pers No 40 Tahun 1999, yaitu kontrol sosial. Fungsi lainnya yaitu pendidikan, hiburan dan sebagai lembaga ekonomi.


Sejak era reformasi bisa dikatakan pers baru mempunyai UU yang menjamin kemerdekaan, dan sebagai bentuk perlindungan hukum. Artinya, melalui UU yang lahir pada era pemerintahan Habibie tersebut, pers didorong untuk bekerja dengan merdeka, indendepen, tanpa campur tangan atau intervensi pihak mana pun, termasuk penguasa dan pemilik modalnya. Diharapkan dengan independensi tersebut maka demokrasi semakin kuat.  Pers merupakan perwujudan dari kedaulatan rakyat.


Di zaman Pemerintahan Soekarno dan Soeharto pers diperlakukan sebagai corong pemerintah. Pers yang berani kritis terhadap penguasa dianggap melawan kekuasaan, dan nasibnya akan dibredel. Bahkan di zaman Soekarno, selain medianya dibredel, pemimpin redaksinya dijebloskan ke penjara.


Sekarang orang menganggap pers tidak perlu takut dibredel. Iya, betul, pemberedelan tak akan ada lagi. Tapi bukan berarti pers bebas dari tekanan. Di era demokrasi, tantangannya berbeda. Pers bukan hanya berhadapan dengan kekuasaan dalam arti kekuatan politik, tapi termasuk tekanan dari kekuatan lain, seperti kekuatan modal, kekuatan massa, dan kekuatan lain yang seringkali tidak tampak ke permukaan, tapi cukup nyata dirasakan oleh orang pers. Kasus pembunuhan terhadap wartawan senasib Udin di zaman orde baru, masih terjadi di era reformasi. Ancaman dan intimidasi, mulai dari yang lembut sampai kasar, seperti perampasan kamera, bahkan teror pembakaran rumah seperti menimpa wartawan Serambi Indonesia di Aceh, juga marak di era reformasi. Itu belum dengan tekanan-tekanan dengan cara lain.


Tentu saja media/pers tidak boleh cengeng apalagi menyerah dengan tantangan tersebut. Media, dengan lembaga demokrasi lainnya, harus satu visi dan bahu-membahu  dalam memerkuat demokrasi. Demokrasi yang sehat, demokrasi yang bukan asal bicara, tapi demokrasi yang tunduk pada hukum.


Dalam hal inilah Lembaga Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merupakan partner yang penting dalam menentukan arah demokrasi. Tentu saja bukan partner dalam arti saling intervensi pada domainnya masing-masing, seperti yang sering ditafsirkan oleh kalangan birokrat, terutama pihak keamanan. Partner dalam arti saling menghargai dan menghromati tugasnya masing-masing, saling menjaga integritas.


Dalam soal fungsi kontrol, media/pers termasuk juga yang mengontrol kinerja Bawaslu. Dan media/pers juga tentu tak lepas dari kontrol masyarakat, terutama pemantau media, supaya pers tidak melampauai batas atau menyalahkan kewenangannya. Kita tahu di era kompetisi politik sekarang ini media pun bisa tergelincir dalam memanaskan situasi, atau berpihak tanpa terbuka ke publik. 


Bukan persoalan netralitas atau keberpihakan yang jadi masalah, tapi yang jadi poin penting adalah soal independensi. Jika media berpihak pada kepentingan tertentu, itu hal yang wajar, seperti halnya dalam soal revisi UU KPK, jelas media berada di pihak KPK dan menentang DPR yang ingin mengesahkan UU KPK. Di AS, dalam soal pemilihan presiden, Fox News sudah lazim memihak calon presiden dari Partai Republik. Tapi media di AS selalu terbuka kepada publik bahwa medianya ada di kubu salah satu kontestan politik. Di Indonesia, lebih banyak yang bersembunyi tapi kebijakan redaksinya nampak condong membela salah satu pihak.


Namun dalam kepentingan kontestasi politik, yang paling ideal dan diharapkan publik tentu saja pers yang netral. Dengan bersikap netral, pers bisa mengakomodir kepentingan publik dari kubu mana pun. Bagaimana pun, secara filosofis, media itu dititipi amanah oleh publik untuk menyuarakan kepentingannya, karena publik tak mampu menjangkaunya sementara pers dianggap mampu mengjangkau karenan mampu mengakses ke semua sumber. Jika filosofi ini dikhianati, wajar publik kecewa dan akhirnya media pun kehilangan kepercayaan. Jika pers tidak mempunyai kredibilitas, pertanda demokrasi sedang sakit.


Bawaslu sesuai dengan UU No 7 Tahun 2017 mempunyai tugas, wewenang dan kewajiban yang juga tidak mudah dalam implementasinya. Wajah demokrasi ikut juga ditentukan oleh Bawaslu. Sedikit saja terpeleset, dampaknya akan luas. Apa yang terjadi di Palembang saya kira sudah menunjukkan komitmen Bawaslu dalam menegakkan hukum. Itu tentu bukan perkara mudah, karena menemukan pelanggaran sesama penyelenggara pemilu biasanya sering muncul konflik kepentingan. Namun, dengan integritas yang kuat, Bawaslu harus bersikap adil bukan saja kepada peserta pemilu, tapi juga kepada sesama penyelenggara.


Bawaslu Kota Semarang sepanjang kontesasi politik, baik Pilkada, Pemilu dan Pilpres sudah menunjukkan kinerja yang cukup baik. Media sangat terbantu dengan keterbukaan dari Bawaslu. Mulai dari pengawasan tahapan pemilu sampai temuan pelanggaran, tak ada yang memunculkan kontroversi dan polemik di masyarakat. Temuan masalah Daptar Pemilih Sementara (DPS) sebanyak 6.231 nama (lihat link: https://jateng.tribunnews.com/2018/04/03/panwaslu-kota-semarang-temukan-6231-nama-pemilih-bermasalah-dalam-dps)  sudah terantisipasi dan terkontrol, sehingga tersampaikan ke publik. Dengan cara itu, KPU segera memperbaiki. Begitu juga saat ditemukan pelanggaran dalam pemungutan suara, Bawaslu langsung merekomendasikan untuk menggelar pemilu ulang (lihat: https://jateng.tribunnews.com/2019/04/20/bawaslu-ingin-kpu-kota-semarang-lakukan-pemungutan-ulang-suara-di-5-tps). Untuk memberitakan kasus-kasus seperti ini tentu media tidak bisa melakukan sendirian, karena selain tak mampu mengjangkau, juga ada yang lebih mempunyai kapasitas dan kompeten untuk melakukannya, yaitu Bawaslu.


Bawaslu Kota Semarang terbilang sudah mampu melaksankan tugas untuk hal-hal yang dianggap sensitif oleh publik, yaitu pemanggilan tokoh politik yang sedang jadi pejabat. Pemanggilan Wakil Walikota seperti terbaca pada link ini: (https://jateng.tribunnews.com/2019/02/12/bawaslu-panggil-wakil-wali-kota-semarang-karena-hadir-dalam-deklarasi-dukungan-capres) sudah menunjukkan integritas jajaran Bawaslu. Perkara hasil akhirnya, tentu Bawaslu bukan faktor tunggal dalam menentukan hasil akhirnya. Bagi publik, proses sudah dilalui tanpa rasa takut atau ewuh pakewuh sudah mengindikasikan Bawaslu berperan penting dalam menentukan demokrasi yang patuh pada hukum.


Tentu saja proses-proses yang sudah dilalui itu bukan berarti Bawaslu telah bekerja sesuai harapan publik. Ekskpektasi publik biasanya lebih tinggi dari yang kita duga. Meskipun proses sudah dilewati, publik tentu barahap hasil akhirnya. Misalnya dalam kasus running tex Puskesmas Srondol, Bawaslu sudah bekerja dengan memanggil pihak-pihak terkait, namun sejauh ini publik masih penasaran dengan tahapan akhirnya.


Harapan publik yang tinggi terhadap Bawaslu Kota Semarang wajar, karena tahun depan Kota Semarang termasuk yang akan menyelenggarakan pesta pemilihan kepala daerah. Kompetisi politik akan makin ketat, benturan kepentingan pun akan semakin tajam, sehingga membutuhkan stamina dan daya tahan dari jajaran Bawaslu. Kalau soal mengawal proses tahapan Pilkada saya kira Bawaslu Kota Semarang sudah teruji, yang paling berat adalah menyelesaikan sengketa dan pelanggaran pilkada, karena ini pasti akan melibatkan tokoh politik penting di Semarang. *


Tulisan ini disampaikan dalam Diskusi “Teropong Media Terhadap Bawaslu Kota Semarang”, di Hotel Metro, Kota Semarang, Selasa, 10 September 2019.

Friday, September 6, 2019

Hiap Nyaah Duduh Durahman


Kuring jeung Bah Duduh Durahman éstu deukeut pisan. Nya salembur nya tuluy sakantor. Ari mimitina mah tina teu ngahaja, atawa bisa jadi aya alam bawah sadar kuring hayang nuturkeun anjeunna. Kieu dongéngna mah.

“Tuh, itu téh kritikus pilem, Duduh Durahman,” ceuk sobat sakelas waktu kuring sakola di SMP Ciwidéy. Harita kakara kelas hiji, kira-kira taun 1979–an. Kabiasaan jaman rumaja téh nongkrong di Gang Siliwangi III, pasosoré, ngadon ngobrol ngalér ngidul bari ningalikeun anu lalar liwat. Nya harita aya nu ngaliwat naék motor véspa. Ari sobat kuring, pangna apal kanu ngaliwat naék motor, lantaran boga dulur anu bumina caket bumi Bah Duduh Durahman, caket bioskop Srimanganti.

Duka kumaha mimitina sobat kuring ujug-ujug ngabéjaan kitu, da kuring harita can kaasup anu resep kana lalajo pilem. Sigana pédah reueus waé manéhna apal ka inohong anu kabeneran dumukna natangga.

Nguping deui jenengan Duduh Durahman téh sanggeus sakola di SMA. Taun 1983 – an, kuring diajar ngarang ka Adang S, anu ngadegkeun komunitas diajar ngarang, Harupat. Ti Adang S apal Duduh Durahman, sajaba ti kritikus pilem, geuning kritikus sastra Sunda deuih. Nya ti harita lain waé nguping namina, tapi jeung jonghokna. Adang S mayeng ngulem para pangarang sénior kana gempungan Harupat, di antarana waé Godi Suwarna, Aam Amalia, Abdullah Mustappa, Éddy D Iskandar, Taufik Faturohman, Muh Rustandi Kartakusuma, sareng Duduh Durahman. Malah Duduh Durahman mah kaasup anu sababaraha kali sumping ka Harupat. Sigana kulantaran anjeunna mah sajaba ti kritikus sastra Sunda, bari janten redaktur carpon di Majalah Manglé.

Bari ngabandungan bagbagan diajar ngarang, kuring mah ujug-ujug jorojoy hayang wawanohan, pangpangna mah aya kareueus pédah salembur, pada-pada urang Ciwidéy. Hayang pok kieu, “Abdi gé ti Ciwidéy.” Ku kitu téh sugan waé dihiap ku anjeunna. Ngan kumaha carana? Malum masih kénéh maké segaram SMA, sedeng anjeunna inohong anu tos komaraan dina dunya kritik pilem jeung sastra Sunda. Leuheung basa mun anjeunna galéhgéh akuan, mun henteu? Pasti kana érana. Ceuk batur téh meureun, éta budak torojogan ti kampung nahap-nahapkeun manéh hayang wawuh ka inohong.

Adang S cara ngajarkeun ngarangna kawilang praktis. Teu réa ngaguruan kudu kitu kudu kieu, tapi leuwih remen ngadatangkeun para pangarang. Para calon pangarang téh dititah ngabandungan, malah dititah tetelepék nanya ka nara sumber. Ti dinya tuluy  dipaksa dititah langsung nulis. Minggu hareupna dikumpulkeun di anjeunna, rék dipilih. Anu nyumponan sarat ku Kang Adang baris dipasrahkeun ka Bah Duduh Durahman, minangka rédaktur carpon di Manglé.

Perkara nulisna kuring nurut. Sumanget langsung mumbul. Satékah polah nganggeuskeun carpon. Judulna “Kabungbulengan”, nyaritakeun imah Uwa kabanjiran, terus kopéah kameumeutna palid nepiika si tokoh nu boga kopéah roroésan hayang nyalametkeun kopéah, tapi teu walakaya ngalawan rongkahna umpalan cai. Malum imah si tokoh ayana dina biwir walungan. Ukur bisa neuteup kopéah anu ngaléngléong, dugika kabungbulengan.

Carpon réngsé.  Lebah kudu ngumpulkeun ka Kang Adang, teu diturut. Lantaran harita sakola di SMA Tamansiswa, teu jauh ti kantor Manglé, naskah carpon langsung dianteurkeun ka kantor Manglé. Karepna mah hayang langsung nepungan rédakturna, Duduh Durahman, tapi agag-agagan taya kaludeung.

Antukna carpon téh dititipkeun ka sekretaris rédaksi. Ku teu nyangka, heuleut sawatara minggu, carpon dimuat. Duh, bungangangna. Asa meunang lotré. Indit ka gempungan diajar ngarang gé aya agulkeuneun,  carpon kuring pangheulana dimuat di antara anu dialajar ngarang ka Adang S. Padahal harita maké seragam SMA kénéh, sedeng nu séjén mah lolobana geus jadi mahasiswa.

Tapi aya hemar-hemirna ogé, sieun dibenduan ku Adang S, pedah campelak langsung ngirim carpon ka Manglé. Jeung enyana wé, Kang Adang rada tiis. Karangan kuring teu jadi bahan kaagulan.

Ku dimuatna carpon téh asa aya panghiap ti Bah Duduh Durahman. Hiji poé mah ngawani wani hayang nepungan, hayang nyarita carpon “Kabungbulengan” téh beunang kuring, urang Ciwidéy, salembur sareng anjeunna.  Balik ti sakola, henteu balik ka kosan, tapi ka Manglé, niat rék nepungan téa. Anjog ka buruan Manglé, rumengkog.  Antukna ukur diuk dina motor batur anu harita ngajajar motor wungkul di buruan Manglé.

Kikituan téh aya kana sababaraha kalina. Ka Manglé niat hayang nepungan Duduh Durahman derna mah ukur luntang-lantung di buruan, diuk dina motor batur, matak curiga batur. Mangkaning motor ngajajar.

Hiji poé, pabeubeurang, keur ngahintul dina motor batur, aya rombongan nu tos badminton ti lapangan Lodaya. Salahsaurangna aya Duduh Durahman. Lahaola. Kuring kumawani ngawanohkeun manéh. Anjeunna rada kerung, malum can kungsi tepung. Tapi Anjeunna ngaku da miwarang ngiring ka rohang rédaksi.

Di jero kuring dikenalkeun ka I Asikin, Abdullah Mustappa. Harita nuju aya kénéh Ki Umbara, nanging calikna nyumput kahalangan lomari buku. Kuring dipiwarang calik dina korsi. Aranjeunna ngobrol, kuring ngahunted di juru teu puguh rarasaan. Antara atoh dihiap jeung isin. Najan samar polah lantaran teu ditarik teu ditakon, angger atoh lantaran éta téh minangka panghiap kadua sabada carpon munggaran dimuat.

Sabada lulus SMA 1984 pleng kuring tara ka Manglé. Milu jeung Bapa ka perkebunan Patuha. Di Patuha getol nulis. Malah kungsi nulis novél barudak, tapi tuluy leungit naskahna. Karangan carpon téh dikirim via pos ti Ciwidéy, sakalian kuring turun gunung nepungan Ema.

Saban ngirim carpon pasti dimuat. Teu kungsi aya nu ditolak. Malah aya carpon judulna “Néang Kalangkang” kéngéng pangbagéa ti Duduh Durahman, dibahas dina rubrik ulasan. Harita Duduh Durahman ngadamel seratan ulasan saban minggu kana carpon anu katimbang perlu diulas.

Tina opat atawa lima carpon anu dimuat, biasana ukur hiji atawa dua anu diulas ku anjeunna. Jadi mun diulas téh pangarang kacida atohna, hartina meunang perhatian ti rédaktur. Keur kuring mah pangaruhna gedé kacida. Éta ulasan minangka panghiap anu katilu.

Taun 1987 lésot gawe ti Patuha. Tuluy saban minggu ulin deui ka Bandung ngadon milu ruang ruing jeung komunitas diajar ngarang asuhan Adang S, anu tos ganti ngaran jadi “Caraka”. 

Béda jeung jaman Harupat, di Caraka mah anggotana réa pisan, bubuhan henteu ukur diajar ngarang, tapi rupa-rupa kesenian Sunda, pangpangna sisindiran. Kuring kaasup anu henteu loba batur.Éstu nyorangan. Babakuna mah loba kaéra, ngarumasakeun urang kampung. 

Hawar-hawar aya béja di Manglé butuh ku wartawan, jorojoy hayang ngajaran ngalamar. Lahlahan indit ka Manglé. Srog ka nu ngaran Karno Kartadibrata. Nya tiis nya angker. Kalah nanya apal ti mana aya lowongan. Ah dongkap nyalira wé. Mamanawian.  Témbal téh saengabna. Teu burung ditarima. Ti ahir taun taun 1989 kuring mimiti digawé di Manglé.

Ti harita kuring jadi leuwih deukeut jeung Abah Duduh Durahman. Malah ahirna kuring mantuan anjeunna jadi asistén rédaktur carpon.  Ti harita, kuring asa beuki dihiap ku anjeunna. Resep mun tos ngobrol soal pilem sareng sastra. Katerangna kana pilem, ti mimiti aktor aktris, sutradara,  génre pilem, jeung sajarah pilem, ngolotok pisan.

Kitu deui soal sastra. Sanaos Bah Duduh Durahman nulis sastra dina basa Sunda, bacaanana lampar dugika mancanagara. Ti anjeunna kuring apal ngaran-ngaran sastrawan kelas dunya kayaning Érnest Hémingway, William Faulkner, Anton Chekov, William Saroyan, jeung réa-réa deui nu matak pikabitaeun.

Sigana  tina ngabandungan obrolan Bah Duduh Durahman, Kang Abdullah Mustappa, Kang Karno Kartadibrata, mingkin tumuwuh pangaresep kana macaan sastra dunya. Da méméhna mah haré-haré. Siga keuna ku hiji téori, lingkungan téh milu mangaruhan kana kabiasaan hiji jalma.  Teu bisa dipungkir, lingkungan di rédaksi Manglé gedé pisan pangaruhna ka kuring. Di antara anu mangaruhan nya Bah Duduh Durahman.

Tina ngarasa budak boloho ti kampung, tuluy ludeung nga-akangkeun ka anjeunna. Ka dieunakeun kuring jeung para pangarang nga-abahkeun. Keur kuring mah kaasup untung, sanajan hirup dina kultur masarakat Sunda anu cenah ribet bin kaku, jeung para pangarang mah éstuning égaliter, sanajan umur pajauh.

Diskusi jeung ngobrol laluasa pisan tur karasa nimatna, teu kahalangan ku pédah umur, tapi najan kitu rasa hormat tetep nganteng, keur mah resep ku élmuna anu tangtu wé saban poé dipulungan bari haratis. Apan di sakola mah kudu mayar hayang meunang élmu téh.

Taun 1997 kuring kaluar ti Manglé. Bah Duduh tetep nganteng. Basa kuring pipilueun aub ka koran harian “Sauara Baru” taun 1999, kuring nyuhunkeun seratan Bah Duduh kanggo opini. Anjeunna giak langsung nyerat. Hanjakal koran téh umurna ukur sapoé, jadi seratan Bah Duduh teu kungsi kamuat.

Ti Taun 2000 kuring jongjon digawé di koran Métro Bandung, ayeuna jadi Tribun Jabar. Najan kitu masih remen nganjang ka Manglé, silaturahmi jeung urang Manglé, kaasup sareng Bah Duduh.

Kabiasaan ngobrol terus manjang najan kuring geus teu di Manglé. Aprésiasi Bah Duduh ka kuring luar biasa.  Aya kareueus di anjeunna, kuring anu baheula malangmang mulungmung datang ti lembur dina kaayaan dusun, bisa jadi wartawan di koran grup Kompas. Atuh kuring gé tangtu ngarasa digedékeun ku urang Manglé.

Tangggal 1 Oktober 2008, aya wartos Bah Duduh Durahman ngantunkeun di RS Imanuél. Harita kuring kakara bisa nyetir mobil jeung anyaran boga mobil. Can kungsi ngajaran nyetir jarak jauh, kaasup ka Ciwidéy.  Tapi harita kuring ludeung miang ka Ciwidéy mawa mobil seja ngajajap Bah Duduh, guru anu milu ngawarnaan hirup kuring, nu kungsi ngahiap nepi ka kuring bisa macakal ngarang jeung ngalanglang saban média. Di Pasir Suling, teu jauh ti lembur kuring, Bah Duduh reureuh.*

Ieu tulisan dimuat dina buku Tapak Lacak Duduh Durahman.










Thursday, September 5, 2019

Melacak Asas Putusan MK




PUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh permohonan pemohon pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, pada Kamis 27 Juni 2019, mengundang pertanyaan sebagian pihak, terutama para pendukung pasangan tersebut.


Putusan MK bersifat final dan mengikat. Maknanya, seluruh warga negara harus patuh pada putusan hukum MK, karena MK merupakan lembaga satu-satunya sebagai penafsir konstitusi sesuai dengan UUD 1945. Dengan demikian, sengketa hasil pemilihan presidan beserta pro-kontranya di kalangan pendukung kedua capres semestinya otomatis berakhir.


Dalam kenyataannya, kontroversi tersebut masih nampak ke permukaan. Selain dipicu karena Prabowo dan Sandiaga yang tidak menghadiri penetapan pasangan Jokowi dan Maruf Amin sebagai presiden terpilih 2019-2024 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), para pendukungnya juga masih banyak yang kecewa. Hal itu bisa terlihat baik di dunia nyata maupun dunia maya atau media sosial, dengan masih bertaburnya ungkapan kekecewaan.


Kontroversi terhadap putusan hukum, apalagi menyangkut pemilihan presiden, suatu hal yang wajar dalam berdemokrasi, namun tetap kita harus dalam koridor, yaitu menghormati putusan tersebut. 



Jalan Akademik

Biasanya, terhadap sebuah proses peradilan atau putusan yang kontroversi diadakan eksaminasi oleh lembaga peradilan yang lebih tinggi. Dalam terminologi hukum, eksaminasi yaitu memeriksa atau menguji penerapan hukum yang dilakukan oleh para hakim, terutama putusan, oleh peradilan yang lebih tinggi. Eksaminasi sifatnya internal dalam kerangka untuk pengawasan. Bisa juga eksaminasi dilakukan oleh kalangan akademis. Namun untuk proses peradilan di MK tentu saja tidak dikenal adanya eksaminasi, karena merupakan proses peradilan pertama dan terakhir serta sifanya final dan mengikat.


Salah satu jalan terbaik bagi warga negara yang ingin memahami, apalagi mendalami, adalah menggunakan kerangka akademik, yaitu memperlajari putusan MK. Siapa saja asal mempunyai kapasitas dan kapablitas untuk menelaah persoalan hukum, tak ada larangan untuk mempelajari kemudian menilai sebuah putusan MK, karena untuk keperluan pengetahuan. 

Bahkan dalam metode penelitian hukum, terutama penelitian yang sifatnya normatif, baik putusan pengadilan, MA maupun MK, selalu menjadi bahan kajian akademik, terutama untuk keperluan skripsi, tesis, disertasi, atau menyusun rancangan peraturan perundangan.


Dalam konteks itulah, kita sebagai warga negara mempunyai ruang untuk mengkaji dan memahami putusan MK yang menolak seluruh permohonan Prabowo-Sandiaga, dengan tidak dilandasi prasangka buruk terhadap para hakim MK yang berjumlah sembilan orang.


Seperti saya katakan, putusan MK itu mengejutkan bagi sebagian orang, terutama karena tak ada dissenting opinion. Dalam putusan tersebut, selain seluruh permohonan ditolak, sembilan hakim kompak dalam seluruh pertimbangan hukumnya. Jika melihat dari sisi waktu yang dipercepat dan kesamaan cara pandang hakim dalam pertimbangan hukumnya, sudah dipastikan dalam proses rapat permusyawaratan hakim (RPH) tidak terjadi perdebatan yang berarti.


Pertanyaannya, mengapa bisa demikian?



Bersandar Dua Sistem

Bagi orang yang awam hukum, juga mungkin bagi akadmisi hukum dan praktisi hukum, bisa jadi pertanyaan tersebut hidup dalam pikirannya, kok bisa?  

Di kalangan hukum perbedaan pendapat terhadap sebuah proses dan putusan hakim itu soal biasa, makanya dikenal adagium jika sepuluh ahli hukum berkumpul dan berdebat, dipastikan ada seratus pendapat hukum. 

Sedangkan di kalangan masyarakat awam, pertanyaan dan kontroversi tersebut seringkali menjadi tidak sehat karena sering diwarnai prasangka terhadap hakim.  Contoh paling nyata ketika hakim Sarpin mengabulkan permohonan pra-peradilan Komjen Budi Gunawan.


Supaya terhidar dari prasangka buruk, sebaiknya memahami mengapa hakim MK begitu mudah memutuskan dan kompak dalam pertimbangannya. Tentu saja banyak yang tak akan setuju dengan tulisan ini, bahkan bisa saja bertolak belakang. Tapi kalau kemudian tulisan ini menjadi sebuah diskusi, itu memang yang diharapkan, asal tidak berdasarkan sentimen dukung mendukung, tetapi dalam kerangka berbagi pengetahuan.


Di dalam sistem hukum, dikenal sistem civil law dan common law. Civil Law berkiblat pada hukum kontinental, yaitu Eropa. Sistem hukum di Indonesia tentu saja kental diwarnai civil law karena warisan hukumnya merupakan produk hukum kolonial.  Sedangkan common law berkiblat pada Amerika dan Inggris. Sistem civil law berbasis kodifikasi hukum, karena itu melahirkan teori legisme. Putusan hakim yang dipengaruhi teori legisme akan berpegang pada peraturan perundangan. 


Sebaliknya sistem common law tidak mengenal kodifikasi.  Karena berbasis pada hukum tidak tertulis, maka putusan hakim sebelumnya selalu jadi acuan hakim dalam mengambil putusan. Model ini kemdian memunculkan teori jurisprudensi.


Teori legisme dibangun untuk kebutuhan asas kepastian hukum, sementara teori jurisprudensi berasas pada keadilan.

Meskipun hukum di Indonesia merupakan warisan kolonial dan karenanya kental teori legismenya, tidak berarti teori jurisprudensi diabaikan oleh para hakim. Bahkan pada akhirnya, untuk kepentingan akademik dan kepentingan praktik hukum, dua teori tersebut memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan hukum di Indonesia. Tak sedikit putusan hakim yang selain mengacu pada aspek legisme, juga mengacu pada jurisprudensi.


Salah satunya adalah Putusan MK yang menolak seluruh permohonan Prabowo-Sandi. Dengan tetap berpegang teguh pada pertimbangan bahwa MK hanya memutuskan sengketa hasil pilpres dan menyatakan bahwa sengketa proses pemilu sudah diselesaikan oleh Bawaslu karenanya tidak menjadi kewenangan MK, jelas sekali bahwa MK memegang teguh teori legisme. Artinya, kewenangan MK seperti disebut dalam pasal 10 poin (d) UU NO. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi jadi pijakan kuat. Terlebih lagi, dalam pertimbangannya pun MK menyatakan bahwa MK menghormati sengketa proses pemilu yang sudah diselesaikan oleh Bawaslu. Artinya, MK menghormati peraturan perundangan pemilu.


Lalu, mengapa MK mempercepat pembacaan putusannya dan sembilan hakim MK seakan kompak dalam pertimbangannya, sampai-sampai tidak ada dissenting opinion? 

Selain itu, dengan dipercepatnya pembacaan putusan seakan begitu mudah dalam menjatuhkaan putusan. 


Kita harus ingat bahwa putusan MK pada pemilihan presiden 2014 juga menolak seluruh permohonan Prabowo-Hatta Radjasa. Saat itu, KPU yang menyatakan Prabowo-Hatta hanya meraup suara 62.576.44 dan Jokowi-Kalla 70.997.833, ditolak oleh pasangan Prabowo-Hatta dan menyatakan bahwa pihaknya meraup 67.139.153 sementara Jokowi-Kalla hanya 66.435.124. 

Perselihan ini kemudian dibawa ke MK, namun permohonan perkara yang diajukan ke MK adalah kecurangan terstruktur, sistematis dan masif, persis seperti yang dimohonkan pada hasil pilpres tahun ini. Karena tim hukum Prabowo-Hatta tak mampu membuktikan adanya kecurangan TSM tersebut, terutama korelasinya dengan perolehan suara kedua pasangan capres-cawapres, MK pada 2014 menolak seluruh permohonan termohon.  Mahfud MD yang saat itu jadi Ketua Tim Sukses Pemenangan Prabowo-Hatta pun sudah memprediksi akan kalah di MK, karena sulit untuk membuktikan bahwa selisih angka 8.421.389 itu milik pasangan Prabowo-Hatta. Tak heran dia segera mundur dari ketua tim pemenangan.


Apalagi pada pilpres 2019. Selain lemahnya para saksi dalam membuktikan adanya kecurangan TSM, juga tidak mampu membuktikan bahwa selisih persolehan suara pilpres 2019 sebesar 16.957.123 atau dua kali lipat dari pilpres 2014, sebagai milik pasangan Prabowo-Sandi. 

Dengan demikian, tidak heran kalau pembacaan putusan dipercepat serta hakim sependapat dalam pertimbangannya. Dengan melihat alur teori hukum di atas, putusan MK yang menolak seluruh permohonan perkara Prabowo-Sandi jelas berpijak pada asas kepastian hukum dan keadilan.*

Alarm Bagi Jokowi

Teror lagi, teror lagi. Kali ini menimpa jurnalis Serambi Indonesia, di Aceh. Rumah Asnawi di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara dibakar orang tak dikenal, Selasa 30 Jui 2019 sekitar pukul 01.30 WIB dini hari. 


Polisi memang belum memastikan motif aksi brutal pada jurnalis ini. Tapi dugaan kuat, teror terkait dengan profesi Asnawi sebagai jurnalis. Karena sebelum kejadian, istri Asnawi pernah didatangi orang tak dikenal yang menanyakan keberadaan suamnya. 


Kasus ini menjadi alarm bagi Pemerintahan Jokowi di tengah-tengah berlum terungkapnya teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Meskipun sudah menurunkan tim gabungan pencari fakta yang bekerja indedenden, belum ada secercah cahaya siapa pelaku yang meneror Novel. Bahkan tim pencari fakta seolah menyudutkan Novel dengan menyebut bekerja melebihi kewenangannya. Sungguh aneh, aneh sekali!


Selama pemerintahan Jokowi periode pertama, penegakan hukum memang paling lemah. Klaim keberhasilan membangun infrastruktur jika tidak disertai dengan komitmen kuat dalam penegakan hukum akan menjadi sia-sia. Pasalnya, ketidaktegasan dalam penegakan hukum akan dijadikan celah oleh para bajingan untuk mengembat uang dari segala lini proyek. Proyek infrastruktur pun tak lepas dari embatan para maling.


Apabila kasus penyiraman wajah Novel dan pembakaran rumah Asnawi gagal terungkap, bisa dipastikan para bandit mendapat angin dan pasang kuda-kuda untuk melakukan aksi kejahatannya. Siapa yang mengganggu, akan disikat dengan cara melancarkan teror. Ini tentu saja menjadi gangguan serius bagi jalannya demokrasi yang sehat.


Novel Baswedan dan Asnawi bekerja di bawah naungan undang-undang. Profesi mereka juga dipagari kode etik. Aksi mengintimidasi mereka agar lumpuh dalam menjalankan tugasnya mengungkap kasus-kasus korupsi, merupakan lonceng kematian bagi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 


Jokowi jangan sekadar berapi-api pidato. Jika ia menyadari wibawa pemerintah berada dalam penegakan hukum, ia harus segera memerintahkan Kapolri untuk mengungkap dua kasus tersebut, agar publik bisa mengetahui secara terang benderang siapa pelaku teror dan apa motifnya. 


Sebaliknya, jika kedua kasus tersebut terus diselimuti kabut, dampaknya bukan saja polisi yang kehilangan kepercayaan, tapi sekaligus meragukan niat pemerintahan Jokowi dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari aksi teror. Apabila rasa aman sudah hilang, maka kehadiran negara sebagai entitas yang bertugas melindungi  rakyatnya, gagal sudah, dan Jokowi akan dicatat dalam sejarah seperti halnya Soeharto yang gagal melindungi rakyatnya dan membiarkan korupsi merajalela.


Pemerintah harus menyadari, intimidasi terhadap Novel dan Asnawi itu bukan sekadar ditujukan kepada mereka berdua secara individual. Teror tersebut merupakan pesan bagi penyidik dan jurnalis agar kehilangan keberanian dan kemerdekaannya dalam menjalankan tugas sesuai undnag-undang. Pesannya jelas: jika lancang mengusik kami, Anda dan keluarga dalam bahaya.  


Dengan pesan tersebut, profesi penyidik dan pers menjadi sasaran tembak dan para pemangku profesinya dalam bahaya. Jika pers dalam ancaman ketakutan, sulit berharap pers bisa melakukan fungsinya dalam mengontrol sosial. Begitu pula jika penyidik dihantui intimidasi, sulit mengungkap kasus korupsi yang sudah akut di negeri ini.*



Wednesday, September 4, 2019

Dari Amany ke Annavita

Sherly Annavita mendadak ngetop di sosial media. Perempuan berparas cantik berdarah Aceh ini tenar setelah tampil di televisi dalam acara talkshow yang sudah digandrungi sebagian pemirsa, yaitu ILC yang digawangi Karni Ilyas. 


Di era sosial media,  ini soal biasa. Seseorang bisa tiba-tiba melambung, tapi dengan segera bisa tenggelam. 


Apa bedanya dengan Tsamara Amany, yang juga tenar lewat ILC. Karni Ilyas sudah ibarat Don King, yang mempromosikan petinju andalannya. Begitulah cara Karni mengemas ILC agar mempunyai daya tarik.  


Orang media sudah mafhum dengan siasat demikian. Dan tak salah, sepanjang dinilai layak oleh Karni dan krunya.

Kita pasti masih ingat dengan sosok muda mahasiswa UGM, Jibril Abdul Aziz yang juga tampil di ILC. Saat itu ia mendapat aplaus karena dinilai sebagai hero, berani melawan kampusnya yang melarang acara seminar kebangsaan, hanya gara-gara tim Prabowo tampil di acara itu. Kini ia harus berurusan dengan polisi karena ulahnya menyebarkan video mesum dirinya dengan kekasihnya.


Amany dan Annavita punya persamaan. Cantik, muda, terpelajar, muncul lewat ILC.  Keduanya juga memiliki keberanian mengungkap pikirannya di depan khalayak. Mereka berani mengkritik tokoh besar di Indonesia yang mempunyai basis pendukung yang sama kuat, fanatik, militan dan sama banyaknya. Keduanya juga dipastikan mendukung salah satu tokoh capres.


Bedanya, Amany ada di kubu Jokowi, sehingga ia mengkritik Prabowo dan memuji Jokowi. Sebaliknya, Annavita mengkritik Jokowi sebagai presiden. Meskipun tak terungkap mendukung Prabowo, tapi mudah terbaca ia ada di kubu Prabowo.



Ada yang salah? Tentu saja tidak. Ini negara demokrasi.


Terlepas dari kualitas pendapatnya, saya acungkan jempol pada keduanya.  Di tengah suasana terbelah akibat polarisasi politik, kedua milenial ini cukup baik menggunakan haknya: hak kemerdekaan berpendapat. Mengeluarkan pendapat merupakan hak asasi yang dijamin konstitusi. Semua orang sudah tahu soal itu. Tapi saya yakin tak semua orang punya keberanian seperti Amany dan Annavita.


Berpendapat di depan publik, apalagi menyangkut politik keberpihakan, mengandung resiko: mendulang pujian dan menuai hujatan. Itulah yang dialami keduanya sekarang ini. Tidak semua orang punya kesanggupan dihujat dan dibenci, sebaliknya kalau dipuji pasti sanggup dan ingin.



Nasib mereka itu sama dengan Mahfud MD dan Rocky Gerung. Kedua orang ini memang pendukung capres yang berlawanan. Mahfud ada di kubu Jokowi, Rocky di Prabowo. Di saat orang lain malu-malu menyatakan keberpihakannya, dua orang ini berani, tapi disertai argumentasi.



Tentu saja argumentasi  mereka ditanggapi berbeda. Bagi pendukungnya, argumentasi mereka tak ubahnya seperti omongan nabi. Sebaliknya bagi yang tak suka, mungkin dianggap babi mengguik.



Meskipun keduanya mempunyai keberpihakan, kita harus jujur, empat orang dari dua generasi ini sedang mengungkapkan suatu soal. Kapstoknya memang politik, terutama persaingan menuju kursi presiden, yang hari-hari ini sudah tuntas, tapi tetap menyisakan bara.



Saya setuju dengan pendapat Ignas Kleden dalam tulisan pengantar di salahsatu bukunya. Ignas bilang begini. Seorang penulis – yang kemudian saya perluas termasuk orang yang bicara mengungkapkan pendapatnya – adalah orang-orang yang mengungkap satu soal. Ia sedang membela suatu soal, bukan membela seseorang. Perkara ada orang yang kemudian terbela karena ia ada dalam pusaran persoalan tersebut, itu soal lain dan merupakan konsekwensi.



Ignas memberi ilustrasi yang menarik. Di zaman orba, militer menuai kritik dari berbagai kalangan, karena telah membajak demokrasi dan mau diperalat Soeharto, dan Ignas termasuk yang mengkritik. Di era Gus Dur, Ignas mengkritik cara-cara pemerintahan Gus Dur, di anataranya terlalu merecoki dan intervensi terhadap tubuh  militer.



Dalam tulisan kritik ke Gus Dur ini, diakui Ignas, militer jadi pihak yang terbela oleh tulisannya. Tapi ia tegaskan, soal yang dibela bukan militernya, tapi cara-cara kepeminpinan Gus Dur untuk tidak intervensi pada militer sejauh menyangkut teknis dan pergantian orang.



Amany dan Annavita juga begitu. Amany membela soal: oposisi yang berkualitas, yaitu oposisi yang fokus mengkritik program-program Jokowi, bukan yang lain-lain, seperti soal agama, asal-usul orang tua, Cina, PKI. Bahwa dalam pembelaanya terhadap soal opisisi berkualitas ini kemudian ada yang terbela, yaitu Jokowi, itulah konsekwensi dari kegigihan berpendapat. Apalagi secara eskplisit memang Amany ada di partai koalisi Jokowi, tapi kita harus belajar melihat inti gagasannya.



Begitu pula pada Annavita. Inti gagasannya, pemindahan ibu kota ke Kalimantan itu ia anggap sebagai cara pengalihan isu Jokowi yang tak mampu memenuhi janji kampanyenya untuk mengatasi kemacetan Jakarta dan menciptakan lapangan kerja. Dari penyataan ini, tentu ada yang merasa terbela, yaitu Prabowo dan semua pendukungnya, tapi sekaligus ada yang merasa tertindas, yaitu Jokowi dan para pendukungnya.



Baik Amany maupun Annavita tentu saja punya kelemahan. Amany misalnya, saat itu menyinggung Presiden Putin dan Kedubes Rusia bereaksi mengundangnya, tapi ia tidak datang. Sebagai seorang politikus muda yang intelek, semestinya ia gentle datang. Sedangkan Annavita, tentu saja orang akan sinis karena pendapatnya ahistoris. Tapi itu bukan alasan untuk memudian membullynya keduanya.



Mahfud dan Rokcy pun demikian. Keduanya bagi saya orang berkualitas yang berani mengemukakan pendapatnya di tengah keterbelahan masyarakat. Mahfud dengan paradigma hukumnya, Rokcy paradigma filsafatnya.



Kalau menilai saat keduanya bicara, orang sering tergelincir pada suka dan tidak suka. Coba baca tulisan-tulisan Mahfud dan Rocky. Buku-buku hukum yang ditulis Mahfud sudah jadi rujukan sarjana hukum di Indonesia. Tidak ada alasan membenci Mahfud hanya karena ia membela soal, yang di dalamnya ada Jokowi.



Hal sama di Rocky. Saya sampai menyimpan tulisan Rocky di majalah Prisma karena menurut saya bagus. Tulisan tersebut sebetulnya hanya mengulas buku tentang aktivitas LSM lingkungan Greenspace. Tapi Rocky tak sekadar mengulas buku tersebut, ia memberi konteks dengan cara mengaitkannya dengan apa yang terjadi di Indonesia. Rocky punya kelas.



Mahfud dan Rocky tentu bukan nabi. Mahfud tampak emosional saat ia gagal jadi cawapres Jokowi. Ia mengungkap aib Maruf Amin, Muhaimin dan Ketua NU. Sementara Rocky salah besar ketika ia menyebut semua kitab suci fiksi. Anggota DPR Akbar Faisal tak terima, karena itu sama saja dengan menyebut Quran fiksi. Rocky berdalih bahwa ia tak menyebut Quran. Jawaban ini tentu saja bertentangan dengan logika pernyataannya. Kalau ia menyebut kitab suci fiksi, maka semua kitab suci agama-agama di Indonesia berarti fiksi. Al-quran termasuk kitab suci, maka ia termasuk fiksi.



Dari sitiulah saya belajar untuk tidak terlalu membela dan memuja seseorang, apalagi membenci, menghujat dan membully. Manusia itu tercipta sebagai makhluk yang unik. Selain punya kelebihan dan kekuatan, ia punya kekurangan dan kelemahan . 


Tapi keunikan yang paling misterius sekaligus mempesona, manusia itu pandai berpura-pura.*







Tuesday, September 3, 2019

Seni yang Berhasil Selalu Berangkat dari Kegelisahan

Preview Hades Fading

Cecep Burdansyah 
-tukang makan, ngopi dan tidur, alias pemalas


Hades Fading (Dunia Memudar) harus saya akui tampil memukau dari semua sisi. Akting, artistik, musik, dan terutama konsep sutradaranya dalam mencipta pertunjukan betul-betul menjadi karya seni yang estetis dari semua sisi. Pertunjukan Jumat malam (30/8) di Nu’Art Sculpture Park, Setraduta, Bandung yang berlangsung 1,5 jam, terasa kilat.

Tidak semua yang estetis itu seni, tapi semua seni pasti estetis, begitu kata John Hospers, guru besar filsafat seni di University of Southern California. Rembulan di atas puncak gunung itu estetis, tapi itu bukan seni, itu keagungan Tuhan. Ketika seorang fotografer memotretnya, ia menjadi seni. Di situ muncul kreasi manusia: mulai sudut pandang dan teknik pencahayaan.

Jika estetis yang bersumber dari keagungan Tuhan itu multak nilai estetisnya, tidak demikian dengan estetis yang bersumber dari manusia. Ada yang gagal, ada pula yang berhasil. Tergantung dari usaha dan kemampuannya. Dan Hades Fading, sungguh luar biasa.

Diawali dengan kemunculan Eurydice (Heliana Sinaga) yang bangkit di puing-puing perpustakaan Hades, Eurydice mencoba mengingat segala kisah yang masih bisa diingatnya, dengan bantuan beberapa catatan yang ada di perpustakaan. Pada adegan monolog Eurydice ini tampil pesona akting Heliana Sinaga, vokal dan gestur yang sempurna. Artikulasi, intonasi, ekspresi wajah mampu menggambarkan berubahnya emosi dari riang, murung, putus asa, dan harapan, dalam balutan musik dan bunyi-bunyi.  

Hades Fading bukan pertunjukan teater konvensional, yang didominasi silih bergantina percakapan. Ia pertunjukan vokal dan visual yang beriringan, beririsan, berpelukan dengan kekuatan musik dan artistik.

Pentas ini membutuhkan kemampuan dan ketabahan empat aktor yang terlibat di panggung. Apalagi menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Ketangguhan akting Heliana Sinaga sepadan dengan ketangguhan akting Wawan Sofwan sebagai Orpheus, Rinrin Candraresmi sebagai Persephone dan Godi Suwarna sebagai Hades.

Saya menikmati momen akting mereka, misalnya saat Orpheus berlari dan meniupkan balon sabun, saat Persephone dan Hades bertaklimat pada Orpheus dan Eurydie, yang kenyataannya malah dilanggar oleh Orpheus. Begitu juga saat Hades bermonolog. Meskipun Godi Suwarna masih kentara logat Sundanya, justru itu menambahkan kekuatan cerita, sebagai tokoh yang datang dari alam dewa.

Hades Fading menyuguhkan filsafat kontemporer, sejumlah pertanyaan yang tak sekadar menuntut jawaban, tapi sejauhmana nurani manusia: apakah ia menyangkal atau menyetujui. Problem manusia modern yang sudah tak perduli lagi pada kepecayaan dan kisah mitologi.

Meskipun berbasis mitologi Yunani sebagai latar belakang, tapi problem tersebut sangat universal. Transformasi cara pandang manusia dari teosentris ke antroposentris, meskipun diakui pencapaiannya, terutama dalam teknologi, tidak selamanya menawarkan kebahagiaan.

Bahkan ingatan manusia menjadi retak. Tradisi membaca, menulis, berpuisi, bermusik, berubah dengan wajah-wajah baru yang meriah seperti kontes, konser, yang sebenarnya bersifat salon dan mudah memudar. Jika mitologi berpelukan dengan alam, seperti dibunyikan oleh suara-suara binatang di hutan saat Eurycide bermonolog, maka modernisasi meneggelamkan alam.

Problem dan dilema manusia moderen ini sebetulnya sudah lama menjadi sasaran kritik para cendikiawan. Peter Berger dalam bukunya Piramida Kurban menohok dengan jelas bahwa modernisme, beserta anak kandungnya kapitalisme, menumbalkan kurban manusia. 

Sandra Fiona Long, sebagai seorang seniman, menangkap kegelisahan yang sama, namun dengan cara dan konsep yang berbeda dengan kaum cendikiawan. Jika kaum cendekiawan berteriak tajam dan keras lewat tulisannya, seniman muncul dengan suara yang lembut, halus, tapi mempunyai daya persuasi yang tak kalah kuat. Jika cendikiawan menyasar intelektulitas manusia, seniman menembus relung hati. 

Persoalan yang sama, di tangan seorang seniman selalu berbeda karena bentuk dan cara pengungkapannya yang khas, yaitu: seni. Dan Sandra Fiona Long berbagi kegelisahan dengan keberhasilan kreativitasnya, sehingga….saya pun jadi ikut gelisah.*

https://jateng.tribunnews.com/2019/08/31/ulasan-hades-fading-seni-yang-berhasil-selalu-berangkat-dari-kegelisahan






Monday, April 8, 2019

WARISAN PENTING HABIBIE

 
PAK Habibie, Presiden Republik Indonesia ketiga, berusia 82 tahun. Tampak masih sehat meskipun beberapa kali sempat dirawat di rumahsakit.

Jalan hibup Habibie bisa dikatakan menikung. Ia seorang teknokrat, ahli konstruksi pesawat terbang lulusan Jerman. Kemampuannya dalam mendesain pesawat diakui dunia.  Pada 1973, Soeharto memanggil pulang untuk membangun pabrik pesawat di Indonesia. Maka jadilah IPTN (awalnya PT Nurtanio). 

Selama di Pemerintahan Soeharto, Habibie selalu ditempatkan di bidang yang sesuai dengan keahliannya, yaitu teknologi dan industri. Seperti biasa, cara berpikir seorang ahli eksakta, dalam melihat persoalan selalu  hitam putih, seperti halnya 2 x 2 adalah empat.

Habibie pun begitu. Pernah mengkritik pendidikan Indonesia, bahkan bukan saja mengkritik, bisa dikatakan mengintevensi. Menurutnya, pendidikan di Indonesia tidak nyambung dengan dunia kerja, terutama industri. Ilmu sosial dipandang tak berguna. Dari Habibie-lah populer istilah pendidikan link and match, dan pernah diterapkan oleh Soeharto.

Gagasan Habibe itu mendapat perlawanan keras dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan saat itu. Ia sangat tidak setuju pendidikan diarahkan ke dunia kerja. Dalam pandangan Fuad Hasan, pendidikan itu harus diarahkan untuk membuat manusia mandiri, bukan menjadi tukang. Yang harus dibangun justru kemampuan menganalisa persoalan. 

Perdebatan Habibie dan Fuad Hasan ini sempat dimuat di majalah Editor. Ignas Kleden, sosiolog yang bekerja di Majalah Prisma, kemudian mewawancarai Fuad Hasan secara mendalam dan panjang lebar mengenai konsep pendidikan. Di situ Fuad Hasan blak-blakan mengkritik pendidikan link and match. Hasil wawancara itu dimuat di Majalah Prisma.

Karena secara politik Habibie dekat ke pusat kekuasaan, adu gagasan antara Habibie dan Fuad Hasan itu dimenangkan Habibie. Tak lama setelah usulannya itu, di kementenrian pendidikan muncul pogram pendidikan link and match, dengan maraknya sekolah kejuruan dan vokasi. Bahkan, Habibie berhasil menempatkan orang dekatnya, Wardiman Djojonegoro, yang sama-sama sekolah di Jerman, jadi Menteri Pendidikan, menggantikan Fuad Hasan.

Soeharto pun jatuh pada 1998 dan Habibie menerima tongkat estafet.  Banyak yang pesimis, termasuk kalangan tentara, bagaimana mungkin soerang teknokrat memimpin bangsa yang majemuk dan multikultur.  Di mata TNI, yang paling nyata dari kegagalan Habibie adalah lepasnya Timor Timur.  Sebaliknya, di kalangan masyarakat pro demokrasi, hal itu merupakan pencapaian Habibie yang berani. 

Habibie yang dipandang cara berpikirnya teknokratis itu ternyata membuat langkah yang spektakuler bagi tegaknya demokrasi. Habibie-lah yang membubarkan lembaga Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUP). Di era Soeharto, lembaga SIUPP ibarat pedang tajam yang bisa memenggal media massa kapan saja Soeharto mau. Korbannya sudah banyak, diantaranya Indonsia Raya, Pedoman, Sinar Harapan, Kompas, Tempo, Detak, Editor. 

Di era Habibie pula lahir UU Pers, yaitu UU NO 40 Tahun 1999. Salah satu pasal penting dalam UU itu antara lain kemerdekaan pers yang dijamin oleh hukum serta tak satu pun atau kelompok mana pun yang berhak menyensor pers (Pasal 4).  Siapa pun atau kelompok mana pun yang melanggar pasal 4 akan dipidana.

Dalam UU ini pula terbentuk lembaga Dewan Pers. Di era soeharto, lembaga ini merupakan penasihat pemerintah, dan ketuanya selalu dijabat Menteri Penerangan. Namun oleh Habibie, seperti dirancang dalam UU Pers, Dewan Pers merupakan dewan yang independen yang tugasnya menyelesaikan sengketa antara masyarakat dan pers. Anggota Dewan Pers pun datang dari kalangan wartawan, pengusaha pers dan dari tokoh masyarakat. Pemerintah tak bisa lagi campur tangan dalam kehidupan pers. 

Inilah sisi gemilanng seorang Habibie. Sosok yang tak bersentuhan dengan ilmu sosial tapi mampu membuat terobosan dengan meletakkan fondasi bagi kebebasan pers, yang pada hakikatnya merupakan kebebasan berpendapat. Sampai sekarang, UU Pers warisan Habibie ini masih tegak berdiri dan belum direvisi.

Di mata orang pers, Habibie adalah fenomenal. Tapi di mata para politikus, Habibie tak lebih dari duri yang dicurigai melanjutkan pemerintahan Soeharto. Karena itu, dalam Sidang Umum MPR, pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR, yang maknanya: Ia tak bisa mencalonkan diri sebagai calon presiden pada 1999. *





  


Media dan Bawaslu

Pertama ingin saya sampaikan bahwa salah satu fungsi media, seperti yang tercantum dalam UU Pers No 40 Tahun 1999, yaitu kontrol sosial. Fu...